Cerita Data Statistik Untuk Indonesia: Resiliensi Bencana dan Arah Ekonomi Pascabencana

Cerita Data Statistik Untuk Indonesia: Resiliensi Bencana dan Arah Ekonomi Pascabencana

Indonesia merupakan wilayah rawan bencana karena terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif (Indo-Australia, Eurasia, Pasifik) dan berada dalam jalur Ring of Fire (cincin api) Pasifik. Kondisi geografis tropis menambah risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh besarnya bahaya alam, tetapi juga oleh tingkat kapasitas adaptasi terhadap bencana, dan resiliensi ekonomi di tingkat desa. Bencana alam bukan hanya peristiwa lingkungan, tetapi juga guncangan ekonomi yang memengaruhi struktur ekonomi desa. Bencana tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga mendorong pergeseran aktivitas ekonomi. Resiliensi desa tidak cukup hanya mengandalkan mitigasi risiko fisik, melainkan harus bertumpu pada pembangunan kapasitas ekonomi sebagai fondasi pemulihan jangka panjang. Perekonomian pascabencana bisa bergerak ke tiga arah berbeda, yaitu pulih sementara (temporary lost), kehilangan permanen (permanent lost), atau bahkan bangkit melalui pembaruan (creative construction). Studi kasus pascagempa 2018 di Kota Palu dan Kabupaten Donggala menunjukkan pola pemulihan yang kontras. Kota Palu menunjukkan fase konvergensi yang lebih cepat dan adaptif, sementara Kabupaten Donggala berada pada jalur pemulihan bertahap. Kebijakan pascabencana untuk beralih dari sekadar perbaikan infrastruktur fisik menuju penguatan kapasitas produktif daerah guna mengakselerasi konvergensi ekonomi jangka menengah.

Tanggal Rilis: 30 Maret 2026

Penerbit: BPS

Ukuran File: 6.94 MB

Dukung UnduhData
QR Code Donasi Saweria

Bantu kami menyediakan data publik secara gratis dan berkualitas.